Updatenetizen.id — Lampung Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disorot setelah seorang siswa SMA Negeri 2 Liwa menemukan ulat hidup dalam menu makan siang yang dibagikan pada Rabu (11/12/2025). Dalam video yang beredar, terlihat seekor ulat berwarna hijau muda merayap di antara sayuran yang seharusnya siap konsumsi — memicu kekhawatiran serius mengenai standar kebersihan penyedia MBG.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas sanitasi dapur penyedia, proses pencucian bahan makanan, serta pengawasan keamanan pangan di tingkat sekolah maupun Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG).
Kronologi Kejadian
Menu MBG yang dibagikan pagi hari itu awalnya terlihat normal. Namun saat membuka kotak makan, beberapa siswa terkejut melihat adanya ulat kecil yang masih hidup di dalam porsi sayuran rebus. Video tersebut kemudian viral di kalangan orang tua dan sampai ke redaksi media.
Dari penampakan fisik, ulat tersebut diduga berasal dari kelompok larva serangga daun — biasanya berwarna hijau, tubuh lunak, panjang 1,5–2 cm, yang umum menempel pada sayuran seperti sawi, selada, atau kubis apabila proses pencuciannya tidak sempurna.
Regulasi & Standar Kebersihan MBG yang Seharusnya Diterapkan
Menurut pedoman resmi pemerintah:
- Kemenkes RI menetapkan bahwa seluruh penyedia MBG wajib memiliki sertifikat higienis dan sanitasi dapur sebelum mendistribusikan makanan kepada siswa.
- Dalam Petunjuk Teknis (Juknis) MBG 2025, setiap SPPG wajib menerapkan SOP yang mencakup:
- Pencucian bahan mentah dengan standar higienitas,
- Pengolahan makanan yang bebas kontaminasi,
- Penyimpanan dengan suhu dan wadah sesuai standar,
- Pemeriksaan kelayakan sebelum makanan dibagikan.
- Berdasarkan PP No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan, penyedia makanan dilarang mendistribusikan pangan yang mengandung cemaran biologis, termasuk telur parasit atau hewan kecil yang berpotensi membawa penyakit. dapat dibaca pada link berikut: https://peraturan.bpk.go.id/Details/65674
Ulat hidup dalam makanan menunjukkan adanya tahapan SOP yang tidak dipenuhi, terutama pada bagian pencucian sayuran dan pengawasan akhir sebelum makanan dibagikan.
Risiko Kesehatan Bila Ulat Tertelan
Meskipun tidak semua ulat berbahaya, keberadaannya di makanan menandakan proses sanitasi yang buruk. Beberapa risiko kesehatan yang perlu diperhatikan:
1. Kontaminasi Parasit Tanah
Sayuran yang kurang bersih dapat membawa telur atau larva parasit seperti:
- Ascaris lumbricoides (cacing gelang),
- Trichuris trichiura (cacing cambuk),
- Ancylostoma duodenale atau Necator americanus (cacing tambang).
Parasit ini dapat menyebabkan:
- infeksi usus,
- anemia,
- diare kronis,
- stunting,
- penurunan konsentrasi dan kecerdasan anak sekolah.
2. Infeksi Bakteri
Sayuran yang tidak dicuci dengan benar dapat membawa bakteri seperti Salmonella, E. coli, hingga Listeria.
3. Reaksi alergi
Sebagian ulat dapat mengandung protein penyebab alergi pada beberapa individu sensitif.
Karena itu, ulat dalam makanan tidak boleh dianggap masalah sepele.
DPRD Lampung Barat: Ini Peringatan Keras untuk Semua SPPG
Menanggapi persoalan ini, Anggota DPRD Lampung Barat, Nopiyadi S.Ip, menegaskan bahwa temuan ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh penyedia makanan MBG.
“Perlu dimasifkan untuk warning semua SPPG. Satgas MBG harus segera bertindak,” ujar Nopiyadi saat dihubungi.
Ia menekankan bahwa program MBG tidak boleh hanya berjalan secara administratif, tetapi harus mengutamakan kualitas pangan yang aman dan layak konsumsi bagi siswa.
Menurutnya, pengawasan SPPG harus diperketat mulai dari:
- pencucian bahan makanan,
- pengolahan,
- penyimpanan,
- hingga penyajian.
“Satgas perlu memastikan SOP dapur terpenuhi sehingga keamanan pangan benar-benar terjamin,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nopiyadi menilai bahwa temuan ulat dalam makanan bukan hanya persoalan teknis, tetapi menandakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap penyedia dan pengelola makanan MBG.
Ia mendesak agar pemerintah daerah melakukan inspeksi mendadak ke seluruh SPPG untuk memastikan standar kualitas tidak hanya menjadi formalitas belaka.
“Menu yang disajikan harus benar-benar memenuhi gizi yang layak untuk kesehatan dan kecerdasan anak. Jangan sampai ada unsur lalai yang mengancam keselamatan konsumsi siswa,” ujarnya.
Nopiyadi juga menegaskan bahwa program MBG adalah program strategis pemerintah yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Ia menambahkan:
“Jika terbukti ada SPPG lalai atau melanggar, Satgas harus tegas memberikan sanksi — mulai dari teguran, penghentian sementara, pengurangan insentif, bahkan pemutusan kontrak.”
hingga Berita ini ditayangkan belum ada keterangan resmi yang disampaikan oleh pihak penanggungjawab/ pengelola dapur MBG yang menyuplai Sekolah SMA 2 Liwa tersebut.
Orang Tua Minta Evaluasi Menyeluruh
Orang tua siswa berharap pemerintah daerah turun langsung dan memeriksa seluruh dapur penyedia makanan. Mereka khawatir bahwa kejadian ini bisa berdampak pada kesehatan siswa apabila tidak segera ditindaklanjuti.
Kasus ulat hidup di menu MBG SMA Negeri 2 Liwa menjadi peringatan penting bagi pelaksana program di seluruh Indonesia. Regulasi sudah jelas, SOP sudah ada, dan standar sanitasi telah ditetapkan pemerintah. Yang dibutuhkan sekarang adalah pengawasan ketat, tindakan tegas, dan evaluasi menyeluruh agar makanan yang dikonsumsi siswa aman, bersih, dan bergizi — sesuai tujuan program. (dedi)
